Seni Meninggalkan Demi Kebaikan Diri Sendiri

Seni Meninggalkan Demi Kebaikan Diri Sendiri

Ada satu sifat buruk saya yang jarang diketahui orang lain, yaitu saya adalah orang yang tega meninggalkan orang terdekat. Kurang lebih 10 tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang teman dunia maya melalui fanpage Facebook. Dia tinggal di daerah Jawa Tengah, sedangkan saya bermukim di Tangerang. Kala itu, hubungan saya dan teman perempuan tersebut sangat baik. Kami sering mengobrol via SMS, kadang-kadang juga teleponan.

Teman saya itu sering menceritakan keluh kesah hidupnya. Barangkali dia merasa nyaman bercerita dengan saya. Namun, sesekali saya merasa bahwa saya tidak terlalu pantas mengetahui kisah hidupnya yang bersifat privat. Pada suatu hari, dia mengajak saya ketemuan di Jakarta, tak jauh dari kampus saya. Dia melakukannya setengah memaksa dan mengatakan bahwa ada urusan penting yang membuatnya harus datang ke Jakarta.

Entah apa yang merasuki saya saat itu, saya memutuskan memblokir kontak dan akun Facebooknya secara impulsif. Bagi saya, berteman di dunia maya tak harus berujung kopi darat. Ada kalanya kita hanya ingin lari dari rutinitas yang melelahkan di dunia nya. Jadi, saya jelas tak suka bila agak dipaksa bertemu dengan teman dunia maya. Hmm, mungkin pemikiran tersebut termasuk salah satu keanehan saya. Bukankah pertemuan dan komunikasi yang intens dapat mempererat suatu hubungan?

Kini, ada satu kejadian besar yang mengubah cara pandang saya terhadap manusia. Ternyata, meninggalkan toxic person itu penting meskipun terasa sangat berat. Jangan biarkan diri sendiri merasa hina saat berada di dekat orang-orang yang kita sayangi. Orang-orang yang menyayangi kita pasti akan meluangkan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk menjaga hubungan baik. Sebab tidak ada dua orang yang bisa bersalaman jika hanya satu orang yang menyodorkan tangan.

Tak jarang pula kita harus menjauh dari orang-orang yang berkaitan dengan si toxic person agar kita lebih mudah melepas dan meninggalkan. Seperti halnya kertas yang rentan terbakar saat berada di dekat pelita yang menyala, demikianlah orang-orang terdekat toxic person juga bisa menyulut amarah kita karena hal-hal yang berkaitan dengan si toxic person. Kualitas hubungan yang tampak erat sebaiknya disudahi jika isinya ternyata penuh luka.

Meninggalkan tanpa pamit kerap dianggap kejam dan picik. Namun, orang-orang yang meninggalkan pasti sudah berusaha bertahan hingga akhirnya tak mampu lagi. Dan kini saya lebih memahami perasaan orang yang menjadi jahat karena tersakiti sebab saya pun mengalami hal yang sama. Kalaupun saya pergi menyisakan luka tanpa berpamitan, ketahuilah bahwa saya menyesali semua kesalahan yang saya buat hingga melukai orang yang saya tinggalkan.

Sifat buruk saya yang tega meninggalkan orang terdekat itu sekarang saya bangkitkan lagi demi kebaikan diri sendiri. Drona, guru Pandawa dan Kurawa, pernah berkata bahwa orang yang pertama berjanji adalah orang yang paling tidak mampu. Saya tak pernah berjanji apapun, maka saya berhak pergi karena sudah berusaha sekuat tenaga dan sepenuh hati sebelum meninggalkan.

No comments