Jika rindu adalah bahasa yang tak terucap,
maka seluruh diamku adalah pengakuan.
Aku tidak menyebutmu lagi.
Tapi setiap keputusan besar masih kuukur dengan bayanganmu.
Kalau hatimu masih ingat arah pulang,
aku belum pernah mengubah alamat.
Aku belum sepenuhnya pergi,
walaupun untuk kembali sudah tidak mungkin.
Aku sudah menutup buku itu,
hanya saja pembatasnya belum kupindahkan.
Kopi ini masih kuseduh dengan takaranmu,
dan lagu lama itu masih memenuhi ruang tamuku.
Aku tidak sedang menunggumu,
aku hanya lupa cara menghapus jejakmu dari keseharianku.
Beberapa cerita memang sudah selesai,
tapi aku masih sering membaca ulang bab favoritku, yaitu kamu.
Aku tidak lagi menoleh ke belakang.
Tapi jika angin membawa namamu, hatiku masih mengenal arahnya.
Ketika engkau sibuk mengarungi rimba dunia,
biarkan lentera itu tetap terang di tempat yang selalu kujaga.
Sejak kecil, aku diajarkan untuk mengingat.
Maka aku tak pernah tahu cara untuk melupakanmu.
Beberapa perasaan tidak perlu diumumkan untuk tetap ada.
Aku tidak mengejar.
Tapi kalau kamu menoleh, aku masih sama.
Buku-buku yang kita baca bersama masih tersimpan rapi,
lengkap dengan tanda pembatas di halaman yang paling kamu sukai.
Jika seluruh hidup adalah perjalanan,
maka kamu adalah titik di mana aku ingin berhenti, menetap, dan tinggal.
Waktu memang membuat banyak hal pudar.
Tapi setiap kali namamu disebut, ada bagian diriku yang tetap tidak bergerak.
Buku kita sudah selesai babnya,
tapi aku belum sanggup menulis kata tamat di halaman terakhirnya.
Seperti air laut, pasang surut akan selalu ada,
namun tidak pernah berubah rasa.
Setiap malam, aku berdoa untuk kebahagiaanmu.
Bahkan jika itu berarti aku harus bahagia tanpamu.
Bukankah cinta yang paling tulus adalah doa yang tak pernah menyebut nama sendiri?
Yang aku tahu,
Setiap kali namamu melintas tanpa sengaja,
duniaku berhenti sepersekian detik –
seolah mengingatkan bahwa ada bagian dariku
yang tidak pernah benar-benar berpamitan.
Aku memilih mencintaimu dalam diam,
karena dalam diam aku tak menemukan penolakan.
Aku memilih mencintaimu dalam kesepian,
karena dalam kesepian tidak ada orang lain yang memilikimu, kecuali aku.
Jika seluruh hidupku adalah perjalanan,
maka kamu adalah titik di mana aku ingin berhenti, menetap, dan tinggal.
Sumber:
Akun Threads @detakpustaka


No comments