Orang-orang sedang menantikan kedatangan kereta di stasiun.
Ada satu kereta yang datang pukul 06.30.
Kereta lainnya pukul 07.10.
Yang lainnya lagi pukul 08.45.
Beberapa kereta melaju cepat.
Beberapa lainnya berhenti di banyak stasiun.
Beberapa lainnya memiliki rute yang panjang.
Beberapa lainnya datang dari kota-kota yang jauh.
Tapi tidak seorang pun melihat kereta yang datang pukul 08.45 lalu berkata,
“Ih, malu-maluin. Kenapa datengnya bukan dari jam setengah enam?”
Karena semua orang tahu:
Setiap kereta punya rutenya masing-masing, jaraknya masing-masing,
pemberhentian masing-masing, dan waktunya masing-masing.
Namun tidak demikian halnya dengan manusia.
Kita melupakan hal-hal sederhana.
Kita mengamati orang yang sudah menikah, membeli rumah,
membangun bisnis, dan menjadi sukses.
Lalu tiba-tiba kita merasa tertinggal.
Padahal kamu tidak sedang menempuh rute mereka, sayang.
Kamu tidak memulai perjalanan dari stasiun mereka.
Kamu tidak mengangkut barang bawaan mereka.
Kamu tidak menerima sinyal, jalur, keterlambatan, dukungan, dan badai
seperti yang mereka terima.
Jadi, mengapa kamu menggunakan pencapaian mereka sebagai ukuran bagi hidupmu?
Mungkin kamu tidak terlambat.
Barangkali rutemu lebih panjang karena destinasimu berbeda.
Bisa jadi pemberhentianmu mengajarkanmu
tentang sesuatu yang tidak kamu dapatkan dari laju kencang.
Keretamu sedang bergerak, meskipun dengan perlahan-lahan.
Walaupun kamu berhenti sejenak.
Meskipun tak ada satu pun orang yang menyemangatimu.
Kamu tidak terlambat,
Kamu sedang menempuh perjalananmu sendiri.
Sumber: Akun Instagram Komal Kamble (@Komal_Reads)


No comments