Barangkali kita sudah sampai di fase hidup yang menunjukkan bahwa kepunyaan kita satu-satunya dan seluruhnya adalah diri sendiri.
Punya kabar baik, bingung mau dibagi ke siapa. Lagi pula kabar baik kita bukan kebahagiaan bagi orang lain.
Punya kabar buruk, berat berbagi dengan siapa pun. Buat apa sih buang waktu orang cuma demi dengar keluh kesah kita.
Era berbunga-bunga sudah lewat.
Kalau mulai didekati lawan jenis tentu tidak ada kupu-kupu beterbangan di perut,
sebab yang ada malah bintang-bintang berputar di atas kepala.
Sungguh tak ada kesiapan untuk menghadapi kecewa karena ekspektasi terlalu tinggi.
Ingin pergi main ketawa-ketiwi sembari ngopi, hilang akal harus mengajak siapa.
Terakhir kali mengajak kawan,
yang muncul hanya respons dingin, bahkan sama sekali tanpa basa-basi untuk menunda.
Keluar sendiri akhirnya senantiasa jadi solusi jitu.
Diri ini tak lagi punya harapan untuk dimengerti, dikasihi, dicintai.
Enggan berinteraksi, enggan berdiskusi.
Karena saat melakukannya terakhir kali ternyata sekadar buang-buang energi.
Sendiri menjelma jadi situasi paling aman yang memberikan ketenangan.
Ada tenang yang tidak bisa diberikan manusia mana pun.
Ada sunyi yang buat kita merasa kesepian.
Tahun demi tahun membuat diri ini menemukan diri sendiri
yang paling jujur apa adanya.
Tidak lagi menghindar dan lari.
Menghadapi bukan karena berani.
Sering kali ragu tetapi tetap dijalani.
Seperti sebuah kutipan yang ada di media sosial:
“Pada akhirnya, kesadaran tentang betapa tidak istimewanya kita adalah pembebasan paling melegakan yang kita butuhkan.
Bukan untuk mengecilkan diri, tapi agar kita tidak mudah terluka atas kejadian yang tidak bisa kita kendalikan.”
Lantas mengapa ini jadi setengah kesimpulan?
Memang hanya setengah sebab tiada yang tahu hidup ini bermuara ke mana.
Situasi berganti, perasaan berubah, semesta bergerak tanpa bisa diterka.


No comments