Halo, kamu yang kukasihi.
Ada malam-malam panjang yang kulalui sebelum terpikir
untuk menuliskan ini.
Pada akhirnya aku memilih berdiri di titik ini, tanpa siapa pun yang bernama
Tuhan, Sang Pencipta, atau berbagai istilah serupa. Bagiku, hidup terasa lebih
baik saat hulu dan muaranya kutempatkan pada diriku sendiri.
Masih terbayang jelas di benak ini ketika diriku antusias
menceritakan pilihan imanku.
Pilihan yang kemudian membawaku menemui kekecewaan demi kekecewaan akibat
harapan semu tak berujung.
Aku pernah keras kepala mengulang-ulang doa untuk meraih
sesuatu yang kupikir baik.
Tak peduli seberapa banyak aku berdoa, kenyataan di depan mata tidak berubah.
Padahal isi doaku tidak muluk-muluk atau berbahaya, tetapi tetap saja apa yang
disebut mukjizat kecil itu tidak hadir untukku.
Semakin kucari di dalam agama, semakin aku tidak menemukan
jawabannya.
Hidup di bawah naungan agama bagiku justru membuat logika semakin kerdil karena
dipaksa menelan kata-kata mereka yang tak jarang kelakuannya bangsat. Kalau
bangsatnya ketahuan lantas minta dimaklumi dengan alasan dirinya masih manusia
biasa.
Hatiku sering remuk oleh apa pun atau siapa pun yang
katanya paling paham agama.
Kehancuran itu kusimpan sendiri sebab protes atau keluh kesah jelas tidak
berguna.
Serpihan-serpihannya lambat laun kukumpulkan lagi agar hati ini seakan utuh.
Kini, pilihanku ini tentu tak akan kuceritakan secara gamblang kepada siapa pun, tidak pula kepadamu. Aku masih harus mengenakan topeng-topeng sosial supaya tidak dianggap janggal di tempat ini. Sesungguhnya kepura-puraan ini bukan karena takut tubuhku dilempar ke laut begitu saja setelah mati, melainkan karena tak ingin debat kusir soal agama. Persetan soal dalil-dalil itu.
Kamu masih bisa mengajakku bercakap-cakap tentang iman, termasuk soal tumbuh kembang, kesempurnaan, maupun rumor di dalamnya. Aku masih melakukan ritualnya atas nama formalitas, khususnya ketika sedang bersamamu. Aku begitu luwes dan terampil menjalaninya untuk memastikan kamu tak menyadari keputusanku ini.
Aku tak pernah punya tempat mencurahkan keluh kesah, tidak
pula bisa bercerita panjang lebar denganmu. Jarak, waktu, dan kesibukan selalu
jadi jurang pemisah di antara kita.
Sejak dulu aku diharapkan jadi kuat, menjaga ini itu, tanpa ada yang diminta
menjagaku
Ya, tidak ada yang menjagaku, tidak pula dengan apa yang kamu sebut Tuhan. Maka sekarang aku sudah mengerti bahwa tempat bersandar terbaik memang diriku sendiri.
Caraku mengasihimu akan selalu sama tanpa terpengaruh
pilihan iman.
Kamu adalah angin sepoi-sepoi menyejukkan, sedangkan aku adalah badai
mengerikan.
Sebisa mungkin segenap gemuruh dalam diri ini kusembunyikan sehingga tidak
membuatmu lari ketakutan. Kuusahakan agar senantiasa jadi pribadi yang sama
untukmu tanpa embel-embel iman sama sekali. Kalaupun diri ini tidak bertuhan,
bukan berarti tak ada rasa kemanusiaan.
Hidupku di dalam genggaman tanganku sendiri sehingga aku tak menyalahkan
siapa-siapa atas segala kegagalan yang mungkin saja terjadi.
Tidak menyalahkan kamu, agama, Tuhan, apalagi pemerintah.
P.S.
Ini adalah contoh surat rekaan berisi ungkapan hati dari sudut pandang seorang atheis.
Kesamaan kisah hanyalah ketidaksengajaan belaka.


No comments