Cinta pertama acapkali dianggap sebagai anekdot kehidupan, tidak pernah serius dan tak berakhir bak kisah negeri dongeng. Namun, berapa banyak di antara kita yang belum atau bahkan tak pernah melupakan cinta pertama?
Waktu bergulir, usia bertambah, tetapi kenangan tentang cinta pertama enggan memudar, seakan baru terjadi kemarin saja.
Barangkali bukan orangnya yang membuat kita tak lupa cinta
pertama, melainkan rasanya.
Perasaan murni tak bersyarat yang hadir saat kita belum ditampar realita hidup.
Rasa pertama yang menyentuh hati bahkan ketika kita belum menyadari
keberadaannya.
Cinta sepolos itu mengalir demikian adanya, disertai rindu, penasaran, deg-degan, tak jarang pula diwarnai cemburu dan jengkel khas polah muda-mudi.
Cinta yang kita resapi tanpa peduli perbedaan status, ras, agama, restu keluarga, tingkat ekonomi, atau sederet jurang pemisah lainnya.
Kala itu kita enteng saja bersenang-senang bersamanya
meskipun uang saku nyaris tak bersisa.
Ada bahagia yang mewarnai sanubari walaupun waktu bersamanya dibatasi aturan
jam malam orang tua.
Kini, kita mungkin sudah tumbuh menjadi versi terbaik diri sendiri atau setidaknya terus berproses dalam fase kedewasaan.
Versi inilah yang membuat cinta kita menjadi begitu perhitungan, tak akan selepas dan sebahagia cinta pertama semasa muda.
Jatuh cinta tidak lagi terasa mudah pada usia yang kian menua. Banyak pertimbangan yang membebani benak daripada sekadar hasrat menikmati manisnya cinta.
Sebab jatuh cinta kemudian melaju ke fase lebih serius ibarat berjudi. Ada yang menang dan merayakan, tetapi tak sedikit pula yang kalah dan menyesalinya seumur hidup.
Belum lagi bayang-bayang trauma masa lalu yang lama
dipendam sendiri.
Ada ketakutan besar jika harus masuk ke episode kehidupan yang tak pernah
terbayang sebelumnya.
Bahtera rumah tangga kerap dijadikan tujuan akhir bagi siapa saja yang saling cinta. Padahal fondasinya bukan hanya dari cinta rasa candu. Tak dapat dipungkiri bahwa kemapanan dan kemampuan mengecilkan ego justru jadi landasan utamanya. Seperti halnya kata-kata Zainudin kepada Hayati, jika kau miskin dan aku pun miskin, hidup tak akan beruntung kalau tak ada uang.
Belum lagi deretan hal penting lain yang disepelekan.
Bahasa cinta yang berbeda, urusan handuk dan kaus kaki kotor yang selalu salah posisi, makanan yang tak disantap seakan tidak menghargai, perkara keluarga yang senantiasa ingin turut serta, atau rasa bosan mengikis cinta yang dulu menggebu-gebu.
Demikianlah jatuh cinta tak akan pernah lagi bisa dirumuskan dengan sederhana sewaktu pengalaman hidup makin bertambah.
No comments