Betapa egoisnya diri,
ketika semua keinginan harus dikabulkan sesuai ekspektasi.
Ya, namanya juga manusia.
Sering membuat jebakan diri,
menyusun skenario yang belum tentu terjadi
dan akhirnya dihancurkan ekspektasi diri sendiri.
Silakan berekspektasi setinggi atau serendah apa pun.
Itu pilihanmu.
Tapi, penuhi sendiri.
Saat ekspektasi ditaruh ke raga lain,
kecewa sering jadi teman.
Kita sama-sama tahu.
Saat ekspektasi ditaruh di raga lain, kecewa sering jadi teman.
Bukan sekali, dua kali.
Mungkin kita lupa, atau terlalu keras kepala.
Ketika orang-orang menaruh ekspektasi mereka terhadapmu
dan kau tidak mau memenuhinya, itu bukan masalahmu.
Kau tidak bisa memenuhi ekspektasi semua orang.
Pada kecewaku, aku tidak menyalahkan orang lain.
Aku menyalahkan diriku sendiri,
membangun ekspektasi terlalu tinggi.
Ekspektasi orang dan ekspektasi diri sendiri, sama-sama bisa melukai.
Ekspektasi orang bisa menekanmu,
ekspektasi diri sendiri bisa menyakitimu.
Jangan terlalu dalam berharap sama manusia.
Terkadang ekspektasi tidak seindah realita.
Hidup bukan hanya tentang ekspektasi,
tapi juga tentang realita yang harus dijalani.
Yang bikin kecewa bukan orangnya,
tapi ekspektasi yang salah arah.
Orang lain tidak pernah mengecewakan kita.
Kita saja yang berekspektasi terlalu tinggi terhadap manusia.
Kamu tahu ekspektasimu terlalu tinggi.
Kamu sudah turunkan.
Sudah turunkan lagi.
Tapi tetap saja tidak terpenuhi.
Dan kamu tidak tahu mana yang lebih melelahkan,
berharap atau berhenti berharap.
Berusaha untuk terus belajar mengendalikan ekspektasi
karena terkadang ekspektasi bisa jauh lebih menghancurkan
daripada kenyataan yang sebenarnya.
Ada bagian dari diriku yang kecewa bukan pada orang lain,
tapi pada ekspektasi yang kubuat sendiri.
Yang jahat itu bukan orang lain,
tapi isi kepala dan ekspektasi kita sendiri.
Orang-orang menaruh ekspektasi kepadaku setinggi langit.
Padahal tanganku saja tidak sanggup menggapainya
meski kaki ini telah berjinjit.
Hidup kita ini sebenarnya sudah bahagia.
Cuma karena mayoritas kita meletakkan ekspektasi kebahagiaannya itu ketinggian,
jadinya pusing sendiri.
Banyak ketidakpastian dalam hidup
yang mengharuskan kamu untuk mengurangi ekspektasi
terhadap hal apa pun dan kepada siapa pun,
karena jika kita sudah berharap terlalu lebih,
maka bersiaplah untuk kecewa.
Berekspektasilah yang wajar dengan akal yang waras.
Agar kita tahu batasan, sampai sejauh mana sesuatu harus diusahakan.
Bahagia itu perihal ekspektasi.
Semakin rendah ekspektasimu, semakin mudah bahagiamu.



No comments