Saya punya seorang tetangga, gadis muda Bernama Vina. Usianya kira-kira 19 tahun. Meskipun sudah lulus SMK, daya pikir Vina agaknya kurang lincah sehingga dia tidak kunjung dapat pekerjaan. Kadang kala ia tampak lazim, tapi sering kali pula terlihat bertingkah seperti bocah. Sehari-hari, Vina sesekali membantu ibunya yang menerima pesanan kue dari tetangga dan handai taulan.
Suatu hari, saya lihat Vina sedang mengetuk-ngetuk pagar rumah Bu Dini, wanita paruh baya yang masih tetangga beda RT dengannya. Dia mengetuk berulang kali dengan durasi lama, kurang lebih sudah 5 menit. Sesaat kemudian, Bu Dini membuka pintu rumah lalu disambut dengan teriakan lantang dari Vina.
“Woy! Lu mesen kue malah nggak keluar-luar dari tadi.”
Mendengar satu kalimat itu bikin saya langsung berpaling dari depan rumah Bu Dini, kontan ingin ngakak rasanya. Sampai-sampai saya tak sempat melihat ekspresi Bu Dini setelah buka pintu. Namun, kurang lebih saya bisa memprediksi perubahan raut wajahnya.
Sejujurnya, kekesalan Vina kali ini juga sering saya rasakan ketika mengantar baju-baju yang sudah selesai disetrika ke rumah Bu Dini. Rumahnya tidak terlalu luas, jarak dari pagar ke ruang keluarga pun tak sampai 3 meter. Tapi saya akui memanggil orang rumahnya untuk keluar itu susah sekali, serasa bertamu di gerbang istana negara.
Tentu saja pengalaman demi pengalaman menyebalkan sewaktu bertamu ke rumah Bu Dini tidak pernah membuat saya bisa melontarkan satu kalimat seperti yang Vina katakan. Padahal rasa hati ini jelas ingin sekali melakukan hal serupa. Baru saya sadari ternyata barangkali Vina adalah representasi yang tepat untuk sebagian besar tamu yang mengunjungi hunian Bu Dini. Jengkel karena sangat kesusahan memanggil sang tuan rumah hingga buang-buang waktu di depan pagar lama sekali.
Pemandangan yang ditunjukkan Vina siang itu menjadi bukti nyata buatku bahwa kejujuran memang acapkali terdengar menyakitkan. Saya yakin Bu Dini kesal sekali gara-gara Vina. Bahkan, terdengar kabar dari tetangga lain kalau sejak saat itu Bu Dini kapok memesan kue dari ibunya Vina.
Jika dipikir-pikir secara jernih, hardikan Vina merupakan sebentuk masukan paling jujur bagi Bu Dini yang tidak akan didapatkannya dari orang lain dengan cara yang sama. Kedengarannya memang tidak sopan dan tidak elok, tapi hanya Vina yang bisa melakukannya tanpa rasa bersalah. Siapa pula kan, yang berani membentak wanita senior yang menjadi perantara rezeki sebagai pelanggan kue dagangan orang tuanya.
Inilah yang akhirnya membuat saya menyadari bahwa manusia cenderung tidak bisa menilai dirinya sendiri. Kritik dan saran tidak selalu datang menyapa dengan cara lembut dan hangat seumpama yang kita inginkan. Kejujuran bisa datang secara tak terduga dari mana saja, termasuk dari hal-hal remeh yang tidak pernah kita sangka.
Jika nasihat membuat kita merasa dihakimi, dan masukan membuat kita merasa dihujat,
akankah seumur hidup kita bawa sifat-sifat buruk itu?
Tulisan ini diikutsertakan dalam Sayembara Writers Hall of Storytellers (HoS) 2026
.png)

No comments